Pasang Iklan Disini!

Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan

10 September 2015

5 Paket Kebijakan Ekonomi

 

Bank Indonesia (BI) mengeluarkan lima kebijakan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Lima kebijakan itu dikeluarkan setelah pemerintah mengumumkan tiga paket kebijakan yang disebut dengan paket kebijakan September 1.
Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo menyampaikan, kebijakan BI yang pertama adalah memperkuat pengendalian inflasi dan mendorong sektor riil dari sisi suplai perekonomian. Dalam hal ini, BI akan memperkuat koordinasi Tim Pengendalian Inflasi (TPI) dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dalam rangka akselerasi implementasi roadmap pengendalian inflasi nasional dan daerah.
"Saat ini, telah terdapat lebih dari 430 TPID di seluruh Indonesia dan telah memiliki roadmap inflasi daerah. Bank Indonesia akan terus melakukan koordinasi dengan pemerintah pusat maupun daerah untuk mengimplementasikan roadmap tersebut," kata Agus di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (9/9/2015).
Selanjutnya, BI juga ingin memperkuat kerja sama ekonomi dan keuangan daerah antara Bank Indonesia dan pemerintah pusat dan daerah. Penguatan kerja sama ini dilakukan agar ekonomi dan keuangan daerah memiliki derap langkah yang sama dengan pemerintah pusat. Kedua, kata Agus, BI juga ingin menjaga stabilisasi nilai tukar rupiah. Caranya ialah dengan menjaga kepercayaan pelaku pasar di pasar valas melalui pengendalian volatitas nilai tukar rupiah dan memelihara kepercayaan pasar terhadap pasar surat berharga negara (SBN) melalui pembelian di pasar sekunder.
"Dengan tetap memperhatikan dampaknya terhadap ketersediaan SBN bagi inflow dan likuiditas pasar uang," ujarnya.
Kebijakan ketiga, lanjut Agus, BI ingin memperkuat pengelolaan likuiditas rupiah. Langkah yang ditempuh adalah mengubah mekanisme lelang reverse repo SBN dari variable rate tender menjadi fixed rate tender serta menyesuaikan pricing reverse repo SBN dan memperpanjang tenor dengan menerbitkan reverse repo SBN tiga bulan.
Selanjutnya, BI juga mengambil kebijakan mengubah mekanisme lelang sertifikat deposito Bank Indonesia (SDBI) dari variable rate tender menjadi fixed rate tender dan menyesuaikan pricing SDBI serta menerbitkan SDBI tenor enam bulan.
Selain itu, diambil juga kebijakan menerbitkan kembali sertifikat Bank Indonesia (SBI) bertenor sembilan bulan dan 12 bulan dengan mekanisme lelang fixed rate tender dan menyesuaikan pricing. Kebijakan keempat adalah memperkuat pengelolaan supply and demand valas. Dalam posisi ini, BI akan menyesuaikan frekuensi lelang Foreign Exchange Swap dari dua kali seminggu menjadi satu kali seminggu dan mengubah mekanisme lelang Term Deposit Valas dari variable rate tender menjadi fixed rate tender, menyesuaikan pricing, dan memperpanjang tenor sampai dengan tiga bulan.
Langkah menurunkan batas pembelian valas juga ditempuh BI. Caranya ialah dengan pembuktian dokumen underlying dari 100.000 dollar AS yang berlaku saat ini menjadi 25.000 dollar AS per nasabah per bulan dan mewajibkan penggunaan NPWP.
"Mempercepat proses persetujuan utang luar negeri bank dengan tetap memperhatikan asas kehati-hatian," ucap Agus.
Kebijakan kelima adalah mengenai langkah-langkah lanjutan untuk pendalaman pasar uang. BI menyediakan fasilitas swap hedging untuk mendukung investasi infrastruktur sekaligus memperkuat cadangan devisa.
"Menyempurnakan ketentuan tentang pasar uang yang mencakup seluruh komponen pengembangan pasar, instrumen, pelaku, dan infrastruktur," kata Agus.

Sumber : Kompas.com

25 November 2013

Jangan Sampai Bandara Di Indonesia Dikelola Pihak Asing

 
Rencana pemerintah membuka ruang bagi investor asing untuk mengelola bandara di Indonesia menimbulkan tanggapan yang berbeda dari pihak maskapai penerbangan.
Menurut Direktur Umum Lion Air Edward Sirait rencana tersebut perlu dipikirkan secara matang. "Apakah orang-orang kita sudah tidak mampu lagi mengelola bandara?" ujarnya, Selasa (12/11/2013).
"Saya tidak dalam posisi mengatakan ya atau tidak soal kepemilikan asing tersebut," kata Edward saat dihubungi Wartakotalive.com, Selasa (12/11/2013).

Ia mengaku sudah mendengar rencana tersebut dari Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Herry Bakti dalam Rapat Umum Tahunan Anggota INACA (Indonesian National Air Carries Association).
Waktu itu, kata Edward, Herry mengatakan bandara tidak sepenuhnya pengelolaan diserahkan kepada pihak asing. Hitungannya 51:49 persen. "Jadi masih dikuasai Indonesia," ucapnya.
Selain itu, Edward menyatakan rencana pengelolaan bandara sepenuhnya oleh pihak asing juga bertentangan dengan Undang-undang penerbangan dan UU penanaman modal.
Ia mengatakan mungkin saja bandara memerlukan investor untuk membantu mengelola bandara tetapi tidak harus sampai 100 persen.

Menurut Edward, kondisi bandara di Indonesia sekarang baik-baik saja dan tidak begitu saja bisa membandingkan dengan bandara di negara lain. Hal itu dikarenakan situasi yang berbeda di Indonesia dengan negara tersebut.
Bila ingin dibandingkan, Edward menerangkan harus ada standar yang ditetapkan dulu agar tidak subyektif.
Ia pun menceritakan pengalamannya saat berada salah satu bandara di Singapura.
"Di Singapura, penumpang tidak menumpuk di satu area dan tersebar penumpangnya. Berbeda dengan Bandara di Indonesia," ucap Edward.
Seperti diberitakan sebelumnya, pemerintah masih menggodok revisi daftar negatif investasi (DNI) untuk investor asing pada sektor transportasi udara, salah satunya yaitu pengelolaan bandara.
Emirsyah Satar, Direktur Utama PT Garuda Indonesia, mengatakan bandara boleh dikelola asing tapi jangan sampai ada kenaikan biaya pengelolaan bandara.

"Investasi dan pengelolaan asing kan beda. Tapi intinya kalau yang diambil adalah pengelola bandara kami setuju saja, tetapi jangan biayanya nanti naik juga," ujarnya.
Menurut Emirsyah ada beberapa bandara yang berkembang di negara tetangga, bisa dijadikan contoh baik. Pasalnya hingga saat ini, bandara internasional dalam negeri masih dinilai belum kondusif dan melancarkan bisnis industri penerbangan.
"Peran bandara bagus sekali. Tergantung siapa, yang pengelolaannya baik seperti negara tetangga Changi (Singapura)," ungkap Emirsyah.

Mantan Ketua INACA ini menegaskan, jika memang bandara internasional dikelola pihak swasta atau asing, harus dilihat benar kualitas dan tujuan pengelolaan. Hal itu untuk mencegah terjadinya kekacauan pengoperasian yang sudah sering terjadi pada saat ini di beberapa bandara udara saat ini.
Mau tidak mau, pengelolaan bandara oleh asing memang perlu dilakukan sebab Indonesia akan menghadapi liberalisasi penerbangan di ASEAN atau ASEAN Open Sky Policy pada 1 Januari 2015.
Meski demikian, Emir berharap pemerintah juga dapat lebih menyeleksi investor-investor asing jika ingin mengelola bandara di Indonesia.

13 November 2013

BI Menaikkan Suku Bunga Indonesia, Saatnya Untuk Meningkatkan Tabungan

 
Di tengah situasi yang dianggap aman dan mulai stabil, Bank Indonesia malah menaikkan suku bunga acuan atau BI rate. Inilah hadiah manis untuk para investor di pasar keuangan.
Pada pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia hari ini, Selasa (12/11), BI menaikkan suku bunga acuan 0,25 persen, menjadi 7,25 persen.

Pertimbangan yang mendasari BI menaikkan BI rate menurut Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Difi A Johansyah, demi mengendalikan defisit neraca transaksi berjalan. "Pertimbangannya untuk mengendalikan current account deficit ke depan," kata Difi.
 
Jadi kebijakan kenaikan suku bungan tersebut dimaksudkan sebagai langkah antisipasi, karena impor masih lebih besar ketimbang ekspor. Transaksi berjalan negatif, rupiah ikut tertekan.
Dengan kenaikan bunga ini, berarti Bank Indonesia mengharapkan rupiah yang beredar akan ditarik ke sistem perbankan. Begitu pun dengan dana asing yang mencari lahan investasi. Mereka menukarkan dolar ke dalam rupiah untuk diinvestasikan dalam jangka pendek di Indonesia. Rupiah, karena tingkat permintaan naik, akan menguat.

Namun, bayarannya tentu tidak sedikit. Suku bunga pinjaman akan mengikuti kenaikan suku bunga acuan, sehingga biaya mendapatkan dana untuk usaha akan makin besar.

25 April 2013

Pabrik Kelima Daihatsu di Indonesia


PT Astra Daihatsu Motor (ADM) akan membuka pabrik perakitan kendaraan (Karawang Assembly Plant) di Kawasan Industri Suryacipta, Karawang Timur, Senin hari ini, 22 April 2013. Pabrik seluas 7 hektare yang berdiri di atas lahan 94 hektare ini memiliki nilai investasi lebih dari Rp 2,1 triliun.
Presiden Direktur ADM, Sudirman M.R., mengatakan, pembangunan pabrik diharapkan bisa mendongkrak kapasitas produksi Daihatsu. "Secara bertahap pabrik ini akan memiliki kapasitas produksi hingga 120 ribu unit per tahun dan akan menambah kapasitas produksi total dari 340 ribu unit menjadi 460 ribu unit per tahun," kata Sudirman di Karawang, Senin, 22 April 2013.
Pabrik ini, kata Sudirman, juga diharapkan bisa memenuhi permintaan pasar domestik dan ekspor, baik untuk merek Daihatsu maupun Toyota. Pabrik ini memiliki beberapa fasilitas yang memungkinkan untuk melakukan proses produksi kendaraan roda empat, seperti stamping, welding, painting, dan assembling. Pabrik ini juga memiliki mesin press dengan kecepatan tinggi.
Pabrik ini merupakan pabrik kelima Daihatsu. Pabrik pertama Daihatsu adalah Sunter Press Plant yang diresmikan pada Mei 1978. Pabrik kedua adalah Karawang Casting Plant yang dibuka pada 1997. Pada 1998, ADM membuka Sunter Assembly Plant. Pada 2006, Daihatsu membuka Karawang Engine Plant. Pabrik baru ini akan mempekerjakan 1.700 karyawan sehingga menambah pekerja ADM menjadi 10.790 karyawan.
Wakil Presiden Boediono akan meresmikan pabrik perakitan kendaraan tersebut. Beberapa menteri juga direncanakan menghadiri peresmian pabrik Daihatsu itu, yaitu Menteri Perindustrian Mohamad Suleman Hidayat, Menteri Perhubungan E.E. Mangindaan, dan Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamukti.
Selain meresmikan pabrik, Daihatsu hari ini juga akan meresmikan pusat penelitian dan pengembangan. Pembangunan pusat penelitian dan pengembangan ini merupakan langkah ADM untuk menjadi basis produksi Daihatsu di luar Jepang. Pusat penelitian ini memiliki fasilitas R&D Styling Building, Design Experiment Building, dan Track Course sepanjang 1 kilometer.

05 April 2013


Imbal hasil pemegang saham merupakan kriteria utama yang dimasukkan dalam daftar tahunan Chief Executive Officer (CEO) terbaik di dunia versi Majalah Baron asal Amerika Serikat (AS) ini.
Selain itu, dasar pemilihan juga berdasarkan kriteria pemimpin yang inovatif dan cerdas mengatur finansial serta dapat memotivasi karyawan dan mengembangkan produk yang beresonansi dengan pelanggan.
Mereka bisa menerjemahkan itu ke dalam pertumbuhan laba yang konsisten dan keuntungan kepada pemegang saham, sebagai nilai tambah. Para CEO itu berasal dari AS, Eropa, dan Asia.
Pihak Baron mengatakan, "Kami tidak bergantung pada setiap rumus untuk menyusun daftar ini. Ini didasarkan pada pandangan wartawan Barron dan editornya, dan mencerminkan pandangan dari investor, analis, dan eksekutif industri," penjelasan Baron.
Berikut 13 CEO terbaik versi majalah Baron, seperti dilansir laman resminya, Kamis (28/3/2013):
1. Bernard Arnault
LVMH Moet Hennessy Louis Vuitton, CEO sejak 1989
Alasan pemilihan sebagai CEO terbaik: Raja kemewahan yang terus menaikkan status masyarakat dunia  
Louis Vuitton kini terkenal sebagai merek tas ternama. Arnault menjadi pengontrol 46,5% saham di LVMH. Sebagai CEO, dia pun berencana memperlambat pertumbuhan toko baru LV untuk menghindari penurunan eksklusivitas mereknya.
Ini adalah ciri khas Arnault untuk membuat mereknya meraup keuntungan jangka pendek. Di masa lalu seperempat abad lalu, dia berhasil membangun kerajaan barang mewah senilai US$ 86 miliar yang terus menumpuk keuntungan.
Produk kulit Louis Vuitton dan anggur Hennessy Moët menyumbang 75% ke pendapatan perusahaan. Dia pun menambahkan label lain seperti Bulgari ke dalam usahanya.  
Seorang miliarder dermawan yang suka musik klasik dan seni modern, Arnault baru-baru ini memicu ketegangan dengan mencari kewarganegaraan Belgia setelah pemerintah Sosialis Perancis mencoba menaikkan tarif pajak penghasilan hingga 75%.
2. Jeff Bezos
Amazon.com, CEO sejak 1994
Alasan pemilihan sebagai CEO terbaik: Mampu mengubah cara masyarakat dunia tentang berbelanja dan membaca via online.  
Bezos termasuk dalam klub eksklusif, bersama dengan Steve Jobs dari Apple, Larry Page dan Sergey Brin dari Google karena ia menciptakan salah satu perusahaan yang paling inovatif dalam 20 tahun terakhir.
Sebagai pengecer internet dan pengembang dari Kindle, Amazon telah membantu mengubah cara orang berbelanja dan membaca.
Terobsesi dengan kepuasan pelanggan, Bezos mengembangkan layanan seperti Amazon Prime, memberikan pelanggan pengiriman gratis selama dua hari senilai US$ 79 per tahun. Dia kemudian menambahkan videostreaming tanpa biaya tambahan.
Bezos, 49, adalah seorang pemimpi, dan ia memiliki uang untuk mendanai mimpinya, termasuk perjalanan ruang angkasa berawak senilai US$ 42 juta.
Mungkin tantangan Bezos terbesar ada di depan, yakni kembali membuat banyak uang. Pendapatan Amazon telah jatuh dalam beberapa tahun terakhir karena mengorbankan keuntungan untuk pertumbuhan.
3. Carlos Brito
Anheuser-Busch InBev, CEO sejak tahun 2005
Alasan pemilihan sebagai CEO terbaik: Membangun bisnis bir raksasa
Melalui akuisisi agresif, pemotongan biaya yang efektif dan cerdas membangun merek, Brito, 53, merubah perusahaan bir kecil Brasil menjadi perusahaan bir paling dominan di dunia, dengan nilai pasar US$ 155 miliar. Dia pun mampu membuat bir merek Budweiser menjadi terkemuka di Cina.
Brito terus merasa haus akan usahanya. Setelah membeli Anheuser-Busch sebesar US$55 miliar pada 2008, ia mencoba mengambil alih perusahaan bir terbesar di Meksiko, Grupo Modelo.  
Dia menerapkan budaya kerja yang informal dengan bekerja di meja yang dikelilingi manajer puncaknya. "Orang-orang hebat berada lingkungan terbuka. Orang biasa-biasa saja hanya duduk di balik pintu tertutup," katanya.  
Di sekolah bisnis, dia memiliki  filosofi, "Jika Anda tidak bisa menyenangkan semua orang, senangkan orang yang paling berbakat," katanya.
4. Warren Buffett
Berkshire Hathaway, CEO sejak 1965
Alasan pemilihan sebagai CEO terbaik: Seorang pencipta nilai yang brilian selama hampir 50 tahun.  
Penciptaan Buffett adalah salah satu prestasi besar dalam sejarah bisnis. Investor cukup beruntung karena menikmati kenaikan 8.000 kali lipat harga saham sejak 1965. Berkshire kini merupakan perusahaan terbesar keempat di pasar, dengan kapitalisasi melebihi US$ 250 miliar.
Buffett terus melakukan hal-hal dengan caranya sendiri. Dia membenci pertemuan, dan memberikan kebebasan kepada pengelola Berkshire Hathaway dan anak usahanya. Namun pada umur 82, bakatnya terlihat berkurang.  
Burlington Northern bisa bernilai 50% lebih tinggi dari yang dibayarkan Berkshire pada 2010. Investasi US$ 5 miliar Buffett pada 2011 di Bank of America sudah menghasilkan keuntungan besar.
Ini adalah taruhan terbaik Buffett di 2015 saat ulang tahun ke-50 dirinya sebagai CEO. Itu akan menjadi berita besar bagi investor.
5. Morris Chang
Taiwan Semiconductor, CEO sejak 1987
Alasan pemilihan sebagai CEO terbaik: Membangun perusahaan terbesar di Taiwan, dengan nilai pasar sebesar US$ 88 miliar.  
Chang, 81, adalah jiwa dari efisiensi. Lulusan MIT ini, membangun perusahaan semikonduktor pengecoran pertama pada 1987. Dia membebaskan desainer untuk fokus pada yang lebih kecil, lebih cepat, dan chip yang lebih kompleks, bukan pada produksi.
Terbukti, saat ini Taiwan Semiconductor mengontrol setengah dari kontrak manufaktur chip senilai US$ 39,3 miliar.
Banyak peluang yang ada di depan, seperti smartphone dan tablet-komputer pembuat menciptakan perangkat yang lebih kuat untuk terhubung dengan internet.
Chang berencana untuk menghabiskan US$ 9 miliar tahun ini untuk membuat fabrikasi baru pembuatan chip kecil untuk perangkat mobile.  
Meski tenar, Dekan TaiwangTtechnology ini Sector ini tetap down to earth. Dia mengambil angkutan massal untuk menghindari kemacetan lalu lintas,  terbukti foto dia duduk di kereta itu beredar tahun lalu.
6. Ed Clark
TD Bank Group, CEO sejak tahun 2002
Alasan Pemilihan sebagai CEO terbaik: Kemampuan menghindari risiko membuat TD tetap kuat dan sehat.  
TDBank muncul dari krisis keuangan sebagai salah satu bank terkuat di dunia. Desakan Clark memperketat mortgage terutama menyangkut standar dan fokus kepada pelanggan obsesif telah membuat hasil bagi perusahaan.  
TD menolak mengeluarkan subprime mortgage setelah memasuki pasar AS pada 2005. "Kami memahami risiko," kata Clark, 65. "Kami tidak akan menjadi bank yang meledak setiap lima sampai tujuh tahun."
Cabang banknya buka tujuh hari seminggu dan memperlakukan para deposan dan hewan peliharaan mereka dengan baik.
Clark mengakui TD tidak bisa bersaing dengan Goldman Sachs dan JPMorgan di bidang perbankan investasi AS, dan tidak seperti beberapa bank asing, tidak membuang-buang uang untuk mencoba bisnis lain.
TD mendapatkan keuntungan yang lebih tinggi dibandingkan Goldman atau JPMorgan, dan pemegang vsaham meraup kenaikan dividen secara berkala.
7. David Cote
Honeywell, CEO sejak tahun 2002
Alasan pemilihan sebagai CEO terbaik: Mampu memperbaiki mesin Honeywell.  
Honeywell, bisa dikatakan memiliki landasan pacu yang panjang dan ekor kuat. Saham Honeywell terus tercatat membaik. Penjualan perusahaan dan pendapatan yang meningkat, meskipun terjadi pelambanan prospek pertumbuhan dalam ekonomi global.  
Cote, 60, seorang pria yang punya lebih dari 10 ribu lagu di iPod-nya, karena hobi musiknya. Sekarang dia telah menjadi pemain berkuasa di Washington, juga bekerja untuk memperbaiki kesulitan anggaran negara.
8. Jamie Dimon
JPMorgan Chase, CEO sejak 2006
Alasan pemilihan sebagai CEO terbaik: Pemimpin dari bank dunia yang paling penting.  
Sebagai bankir terkemuka di dunia, Dimon adalah pendukung kuat bagi perusahaannya dan industri. Dia mengatakan klien multinasional membutuhkan hal luas dari layanan yang hanya bank-bank global besar dapat sediakan.
JPMorgan Chase muncul dari krisis keuangan karena bank dunia yang paling penting. Sekarang memiliki posisi teratas dalam perbankan konsumer dan korporasi, kartu kredit, investasi perbankan, dan manajemen aset.  
Baru-baru ini, Senat mengkritik penanganan bank ini yang menyebabkan kerugian seniai US$ 6 miliar pada tahun lalu. Dimon, 57, harus bergerak lebih cepat untuk menanggung kerugian, yang ia disebut kesalahan bodoh dan  memalukan secara pribadi.
"JPMorgan mengharapkan bagian US$ 7 dalam beberapa tahun ke depan, naik dari sekitar $ 5 pada 2012.  Itu bisa mengurangi sengatan dari kegagalan yang disebut London Whale Fiasco.
9.Warren East
ARM Holdings, CEO sejak tahun 2001
Alasan pemilihan sebagai CEO terbaik: Mampu menempatkan chip ARM di hampir setiap smartphone.
ARM Holdings mikroprosesor menjalankan hampir semua smartphone di dunia dan banyak perangkat mobile lainnya. Sekarang perusahaan mencari manuver masuk ke server Intel.
Kekuatan kompetitif ARM berutang banyak pada kepemimpinan East yag stabil. Saat ia mundur musim panas ini karena memasuki masa pensiun yang diumumkan pekan lalu, akan meninggalkan perusahaan dalam keadaan panas.
East, 51, merupakan lulusan Oxford, meninggalkan Texas Instruments untuk bergabung dengan ARM pada tahun 1994 untuk mendirikan bisnis konsultasinya.
Dia tidak memiliki kesulitan menikmati hidup meski sibuk: main ski, berlayar, berjalan-jalan, bahkan mampu melakukan maraton di bawah tiga jam, ini sebuah  prestasi besar.
Dia bangga dengan warisan budaya Welsh-nya, dan kemampuan memainkan organ di gereja setempat.
10. Larry Ellison
Oracle, CEO sejak tahun 1977
Alasan pemilihan sebagai CEO terbaik: Pembuat hal menakjubkan, langkah akuisisinya mampu mengangkat laba perusahaan 17% tahun lalu.  
Seperti yang sering dilakukannya, veteran Silicon Valley ini membuat berita besar tahun lalu, dengan membayar sekitar US$ 500 juta untuk  membeli Lanai, pulau keenam terbesar di Hawaii.
Ditindaklanjuti dengan pembelian Pulau Air. Ini adalah ciri khas kesepakatan yang dibuat Ellison selama bertahun-tahun di Oracle, perusahaan software raksasa.
Kesepakatannya telah membantu membuat Oracle menjadi perusahaan yang paling menguntungkan dalam industri perangkat lunak, dengan pendapatan mendekati US$ 10 miliar tahun lalu.
Keberhasilannya merupakan bukti Ellison, 68 yang telah membuat perusahaan tetap kuat selama empat dekade.   Oracle terlambat merangkul cloud computing, salah satu alasan yang membuat pendapatan sempat hilang.
Sekarang Ellison berupaya menebus waktu yang hilang. Hampir semua dari 12 perusahaan yang diakuisisi pada tahun lalu difokuskan pada layanan cloud computing.