Pasang Iklan Disini!

05 Agustus 2011

Sejarah Ali Bin Abi Thlaib


‘Ali Bin Abi Thalib (599 – 661)
Beliau salah seorang pemeluk Islam pertama dan juga keluarga dari Nabi Muhammad. Menurut Islam Sunni, ia adalah Khalifah terakhir dari Khulafaur Rasyidin. Sedangkan Syi’ah berpendapat bahwa ia adalah Imam sekaligus Khalifah pertama yang dipilih oleh Rasulullah Muhammad SAW. Uniknya meskipun Sunni tidak mengakui konsep Imamah mereka setuju memanggil Ali dengan sebutan Imam, sehingga Ali menjadi satu-satunya Khalifah yang sekaligus juga Imam. Ali adalah sepupu dari Muhammad, dan setelah menikah dengan Fatimah az-Zahra, ia menjadi menantu Muhammad.
Syi’ah berpendapat bahwa Ali adalah khalifah yang berhak menggantikan Nabi Muhammad, dan sudah ditunjuk oleh Beliau atas perintah Allah di Ghadir Khum. Syi’ah meninggikan kedudukan Ali atas Sahabat Nabi yang lain, seperti Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Syi’ah selalu menambahkan nama Ali bin Abi Thalib dengan Alayhi Salam (AS) atau semoga Allah melimpahkan keselamatan dan kesejahteraan.
Sebagian Sunni yaitu mereka yang menjadi anggota Bani Umayyah dan para pendukungnya memandang Ali sama dengan Sahabat Nabi yang lain.
Sunni menambahkan nama Ali dengan Radhiyallahu Anhu (RA) atau semoga Allah melimpahkan Ridha (ke-suka-an)nya. Tambahan ini sama sebagaimana yang juga diberikan kepada Sahabat Nabi yang lain.
sedangkan, Sufi menambahkan nama Ali bin Abi Thalib dengan Karramallahu Wajhah (KW) atau semoga Allah me-mulia-kan wajahnya. Doa kaum Sufi ini sangat unik, berdasar riwayat bahwa beliau tidak suka menggunakan wajahnya untuk melihat hal-hal buruk bahkan yang kurang sopan sekalipun. Dibuktikan dalam sebagian riwayat bahwa beliau tidak suka memandang ke bawah bila sedang berhubungan intim dengan istri. Sedangkan riwayat-riwayat lain menyebutkan dalam banyak pertempuran (duel-tanding), bila pakaian musuh terbuka bagian bawah terkena sobekan pedang beliau, maka Ali enggan meneruskan duel hingga musuhnya lebih dulu memperbaiki pakaiannya.
Ali bin Abi Thalib dianggap oleh kaum Sufi sebagai Imam dalam ilmu hikmah (divine wisdom) dan futuwwah (spiritual warriorship). Dari beliau bermunculan cabang-cabang tarekat (thoriqoh) atau spiritual-brotherhood. Hampir seluruh pendiri tarekat Sufi, adalah keturunan beliau sesuai dengan catatan nasab yang resmi mereka miliki. Seperti pada tarekat Qadiriyyah dengan pendirinya Syekh Abdul Qadir Jaelani, yang merupakan keturunan langsung dari Ali melalui anaknya Hasan bin Ali seperti yang tercantum dalam kitab manaqib Syekh Abdul Qadir Jilani (karya Syekh Ja’far Barzanji) dan banyak kitab-kitab lainnya.
Sebagai khalifah
Peristiwa pembunuhan terhadap Khalifah Utsman bin Affan mengakibatkan kegentingan di seluruh dunia Islam yang waktu itu sudah membentang sampai ke Persia dan Afrika Utara. Pemberontak yang waktu itu menguasai Madinah tidak mempunyai pilihan lain selain Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah, waktu itu Ali berusaha menolak, tetapi Zubair bin Awwam dan Talhah bin Ubaidillah memaksa beliau, sehingga akhirnya Ali menerima bai’at mereka. Menjadikan Ali satu-satunya Khalifah yang dibai’at secara massal, karena khalifah sebelumnya dipilih melalui cara yang berbeda-beda.
Sebagai Khalifah ke-4 yang memerintah selama sekitar 5 tahun. Masa pemerintahannya mewarisi kekacauan yang terjadi saat masa pemerintah Khalifah sebelumnya, Utsman bin Affan. Untuk pertama kalinya perang saudara antara umat Muslim terjadi saat masa pemerintahannya, Perang Jamal. 20.000 pasukan pimpinan Ali melawan 30.000 pasukan pimpinan Zubair bin Awwam, Talhah bin Ubaidillah, dan Ummul mu’minin Aisyah binti Abu Bakar, janda Rasulullah. Perang tersebut dimenangkan oleh pihak Ali.
Peristiwa pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan yang menurut berbagai kalangan waktu itu kurang dapat diselesaikan karena fitnah yang sudah terlanjur meluas dan sudah diisyaratkan (akan terjadi) oleh Nabi Muhammad SAW ketika beliau masih hidup, dan diperparah oleh hasutan-hasutan para pembangkang yang ada sejak zaman Utsman bin Affan, menyebabkan perpecahan di kalangan kaum muslim sehingga menyebabkan perang tersebut. Tidak hanya selesai di situ, konflik berkepanjangan terjadi hingga akhir pemerintahannya. Perang Shiffin yang melemahkan kekhalifannya juga berawal dari masalah tersebut.
Ali bin Abi Thalib, seseorang yang memiliki kecakapan dalam bidang militer dan strategi perang, mengalami kesulitan dalam administrasi negara karena kekacauan luar biasa yang ditinggalkan pemerintahan sebelumya. Beliau meninggal di usia 63 tahun karena pembunuhan oleh Abdrrahman bin Muljam, seseorang yang berasal dari golongan Khawarij (pembangkang) saat mengimami shalat subuh di masjid Kufah, pada tanggal 19 Ramadhan, dan Ali menghembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 21 Ramadhan tahun 40 Hijriyah. Ali dikuburkan secara rahasia di Najaf, bahkan ada beberapa riwayat yang menyatakan bahwa ia dikubur di tempat lain.
Benteng Haibar yang terkenal begitu kokoh tidak dapat dirobohkan oleh puluhan orang, beliau dengan satu tangan saja merobohkannya. Beliau terkenal dengan pedang Zulfikar yang digunakannya, pedang bermata dua. Dialah singa padang pasir. Malamnya dipenuhi dengan ibadah, siangnya bekerja keras dan berjuang. Beliau membunuh musuh bukan karena nafsu amarah melainkan semata-mata perintah Allah.
Suatu ketika terjadi duel dengan musuh dalam peperangan, lawannya telah terpental dan pedang lawan telah lepas dari tangan, ketika itu Beliau sudah siap memenggal lawan, tapi lawannya meludahi wajah Beliau. Apa yang terjadi?! Beliau tidak jadi memenggal lawannya, malahan Beliau memerintahkan musuh tersebut berdiri dan mengambil ulang pedangnya untuk berduel.
pada zaman ustman bin affan, tumbuh subur orang2 yg berlebihan, kolusi tumbuh pesat dan penarikan bani ummayah ke kota merupakan beberapa penyebab ketidak puasan pada kepemimpinan ustman yg memicu timbulnya pemberontakan.
setelah ustman bin affan wafat karena dibunuh oleh seorang pemberontak, maka Syaidina Ali ditunjuk sebagai Kalifah pengganti.
Pada masa kepemimpinan Ali banyak sekali kekacauan sbg sisa kekacauan dr kalifah sbelumnya. Ali memerangi kaum2 yg berlebihan diantaranya kowarij dll. ada 4 golongan yg diperangi Ali, maaf saya lupa nama golongan2 tsb. salah satunya adalah golongan yg begitu mengagungkan ali (kl ga salah syiah), golongan ini mengibaratkan perkataan Ali seperti suara petir/halilintar, perbuatan Ali seperti cahaya, bahkan ada yg menganggap Ali melebihi Rosul, sehingga ali memerintahkan pasukannya untuk memerangi golongan ini (bakarlah mereka yg mengagungkan diriku, begitulah perkataan ali saat itu)
Pengikut Usman bin affan mendesak Ali untuk menghukum pembunuh Ustman, namun Ali tidak melakukannya.
Karena Ali tidak mau menghukum pembunuh tsb, maka muncul ketidak puasan terhadap kepemimpinan Ali, dan akhirnya Ali pun mati dibunuh dng cara ditusuk dari belakang, beberapa hikayat menyebutkan bahwa pembunuh ali adalah salah satu pengikut dolongan Ustman bin affan.

0 komentar:

Posting Komentar

*